Sepertinya temen di sebelah sedang patah semangatnya, semoga puisi ini dapat menyambung lagi semangat yang sudah patah tersebut.
Mars Untuk Sang Kurban.
Diambil dari http://blog.wonkito.comIni di tengah laut yang mana tak lagi kelihatan pulau-pulau.
Bercandalah di sini paling-paling kau jatuh dan langsung terbenam dan sudah jadi mayat jauh sebelum mencium dasarnya.Hanya lelaki yang bisa teriak ini suara.
Lupakan rindu buang jauh kenangan!
Apa itu cinta?, Habisi dia!
Kita bisa punya banyak cara untuk bunuh dahaga itu.Ayo berjudi lagi jangan pernah gulung layar jangan ribut cari arah dan sampai dimana kita terhenti tetapkanlah sebagai makam kita kelak.
Buang mukamu dari wajah perempuan itu kita harus jantan bebas merdeka lelaki tidak mati karena perempuan lari.
Lepaskan dia mencari pelabuhannya sendiri.
Bahwasanya cinta sejati tidak dapat dibeli.Bung, lihat ke atas segalanya biru.
Maut pun biru suara tak sampai.
Tak ada nyanyian.
Biduan kini arak-arak mega dan belaian kini sapuan prahara.
Pasanglah kail, sulutlah tembakau, hisap kuat dan rasakan betapa tidak berartinya kekasihmu yang betina itu.Monolog Interieur – Jay Bimo

2 comments
Comments feed for this article
Desember 18, 2007 pada 6:49 am
Esa
hmm..nice post..cukup mengingatkan sa utk mengingat “rumah” itu. nuhun.
oya, salam kenal..
Februari 28, 2008 pada 8:35 am
froz!
blog gw dah mati tuh (tunjuk url sumber)
sekarang pindah ke wp.com (haratis)